Makro Ekonomi Indonesia

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif selama tahun 2007 tercermin dari beberapa indikator ekonomi seperti stabilitas makroekonomi yang terjaga, surplus transaksi berjalan, cadangan devisa yang tinggi mencapai US$ 60 milyar, sistem nilai tukar yang mengambang, kondisi fiskal yang sehat dan kondisi perbankan ( CAR diatas 15% ) yang relatif lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi tersebut juga didukung oleh iklim investasi dan kondisi keamanan yang baik.

Meskipun pertumbuhan ekonomi global diperkirakan akan melambat pada tahun 2008 menurut IMF ( International Monetary Fund) karena kekhawatiran akan terjadinya resesi dunia yang didahului oleh US akibat terjadinya krisis Subprime Mortgage dan juga meningkatnya harga minyak dunia yang telah menyentuh angka US$ 145/barel, namun kondisi perekonomian Indonesia yang cukup stabil akan mampu memberikan keuntungan bagi para investor domestik maupun asing dari portofolio investasi di pasar modal.

Prospek tahun 2008 bagi perekonomian Indonesia penulis nilai cukup kondusif, hal ini terbukti dengan dinaikannya peringkat jangka panjang mata uang asing dan lokal (IDR- Issuer Default Ratings) Indonesia menjadi “BB” dari sebelumnya “BB-“ oleh lembaga pemeringkat international Fitch Ratings dengan prospek stabil pada tanggal 14 Februari 2008. Dalam waktu yang sama, Fitch juga menaikkan country ceiling dari “BB” menjadi “BB+” dan mempertegas kembalinya peringkat jangka pendeknya pada “B”. Kenaikan peringkat tersebut mencerminkan kebijakan indonesia yang lebih agresif dalam melaksanakan agenda reformasi struktural dalam menghadapi iklim investasi yang lemah dimana usaha pemerintah memberantas korupsi, birokrasi dan peraturan yang menghambat perluasan investasi pada tahun 2007, ditambah dengan UU investasi dan juga sebuah paket kebijakan ekonomi, terutama bertujuan untuk menjawab kekhawatiran utama para investor.

Secara makro, ekonomi Indonesia cukup sehat dengan pertumbuhan GDP sebesar 6% di 2007. Kondisi politik stabil dan tidak terdapat gejolak sosial yang bersifat nasional. Boleh dikatakan, hampir semua faktor berada dalam posisi yang kondusif untuk melakukan investasi. Sehingga, krisis kali ini secara dominan disebabkan oleh pengaruh global yang dipicu oleh kondisi perekonomian US yang tengah menuju resesi.

Penulis tetap berharap indeks BEI akan terus meningkat seiring dengan prestasi emiten dan tumbuhnya ekonomi nasional. Namun demikian penulis juga mengingatkan bahwa pasar saham di tahun 2008 tidak bisa seindah tahun lalu akibat potensi krisis di tingkat global dan akan menghangatnya kondisi politik Indonesia pada kampanye pemilihan Presiden di paruh kedua 2008. Berikut ini perkembangan asumsi dasar makro ekonomi 2007- 2008.

2 Responses to “Makro Ekonomi Indonesia”

  1. akbel Says:

    thx bgt bung coki atas artikelnya
    sangat bermanfaat sekali

  2. coki002 Says:

    sama2, thank’s atas komentnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: