Archive for the ‘Metode CANSLIM’ Category

Metode CANSLIM

August 7, 2008

Dalam sebuah buku karangan William J. O’Neill yang berjudul How to Make Money in Stock, menjelaskan tentang sebuah metode yang dikenal dengan nama “CAN SLIM”. Suatu metode yang telah terbukti dengan rumusan tertentu untuk menghasilkan keuntungan melalui bursa saham, metode tersebut merupakan suatu cara untuk menentukan keputusan bertransaksi (jual atau beli saham), yang berdasarkan dari analisis ekstensif terhadap saham-saham unggulan yang berpredikat baik dan menghasikan gain setiap tahun. Dalam metode Can Slim mempunyai arti dan rumusan setiap huruf-hurufnya yang mewakili 7 karakter. Ini adalah deskripsi pengertian dari huruf-huruf CAN SLIM:

C : Current Quarterly Earning per Share (EPS)

A : Annual Earnings Increases

N : New Product, New Management, New Highs

S : Supply and Demand

L : Leader or Laggard

I : Institutional Sponsorship

M : Market Direction

* C = Current Quarterly Earning per Share (EPS)

Semakin tinggi Earning per Share (EPS) semakin bagus untuk dikoleksi saham tersebut, EPS adalah laba per lembar saham yang dihitung dengan membagi total laba perusahaan yang sudah dikurangi pajak (net profit) dengan jumlah saham yang diedarkan oleh perusahaan tersebut.

EPS = Net profit / Shares outstanding

Untuk melakukan analisis ini, carilah saham yang menunjukkan peningkatan persentase laba triwulan yang besar pada tahun ini jika dibandingkan dengan triwulan sama pada tahun sebelumnya, minimal peningkatan laba triwulannya 25% dari triwulan tahun sebelumnya.

* A = Annual Earnings Increases

Perusahaan yang pertumbuhannya signifikan menunjukkan bahwa tingkat laba per lembar saham (EPS) meningkat pula setiap tahunnya selama 3 tahun terakhir. Pertumbuhan yang besar selama tahun-tahun sebelumnya mesti diikuti dengan kuatnya laba tahun ini (curent earning) dalam triwulan terakhir. Kombinasi kedua faktor itu sangat besar manfaatnya, dibandingkan dengan manfaat masing-masing faktor secara terpisah, karena kombinasi tersebut membentuk suatu saham unggulan atau setidaknya, saham yang peluang suksesnya lebih tinggi.

* N = New Product, New Management, New Highs

Pembaruan dalam sebuah perusahaan dapat meningkatkan atau mengurangi nilai sebuah perusahaan itu, dengan pembaruan tersebut maka akan berpengaruh pada harga sahamnya di bursa. Pembaruan tersebut dapat berupa manajemen baru, gagasan baru, atau setidaknya langkah-langkah baru yang besar. Kondisi industri yang baru seperti kelangkaan, peningkatan harga atau teknologi revolusioner, misalnya dapat mempengaruhi saham dalam suatu kelompok industri secara positif. Pembaruan melalui produk, jasa atau manajemen baru yang penjualannya meningkat pesat, sehingga tingkat labanya meningkat hingga di atas peningkatan sebelumnya.

* S = Supply and Demand

Hukum permintaan dan penawaran sangat menentukan harga bagi hampir semua produk dan jasa dalam kehidupan sehari-hari. Hukum yang sama ini juga berlaku dalam bursa saham. Cara terbaik untuk mengukur penawaran dan permintaan adalah dengan mengamati volume yang menyertai tidak menimbulkan tekanan jual. Jika harga sahamnya naik secara signifikan, diharapkan volumenya meningkat, yang mengindikasikan telah terjadi pembelian institusional atau pembelian besar. Dalam banyak kasus, jika pembelian jenis ini terjadi maka volume perdagangan seharusnya 50%-100% di atas normal dalam waktu lebih dari sehari, menunjukkan suatu pembelian yang solid dan kemungkinan harga sahamnya terus meningkat.

* L = Leader or Laggard

Perusahaan yang berada dalam kategori “dua atau tiga terbaik” mampu menunjukkan pertumbuhan yang mengagumkan, sementara perusahaan lainnya sulit mengejar untuk merebut posisi itu. Karena itu, kita harus membeli perusahaan yang bagus, dan menjadi pemimpin dalam industrinya. Jabatan “pemimpin pasar nomor satu” belum tentu dipegang oleh perusahaan yang terbesar, atau yang punya merek terkenal, tetapi dipegang oleh perusahaan terbaik dalam ukuran: tingkat pertumbuhan triwulan laba per lembar saham, tingkat return on equity (ROE), marjin laba, tingkat pertumbuhan penjualan, dan fluktuasi harga sahamnya di bursa.

* I = Institusional sponsorship

Agar harga terdorong naik, diperlukan permintaaan dalam jumlah besar dan sumber dana besar bagi permintaan itu berasal dari sponsorship institusional. Contohnya seperti broker saham, institusi investasi, institusi dana pensiun, perusahaan asuransi, atau hedge fund yang punya banyak lembar saham dalam aktivitas bursa sehari-hari. Merupakan hal yang penting untuk mengetahui institusi mana saja yang memiliki saham tersebut dan juga perlu diperhatikan apakah sponsor tersebut makin banyak atau berkurang.

* M = Market Direction

Meskipun telah benar-benar mengikuti petunjuk yang dibahas sebelumnya, tetapi jika salah dalam menilai pasar, maka bisa saja mengalami kerugian dalam berinvestasi. Oleh karena itu, cara terbaik untuk menganalisa situasi bursa secara benar, harus dilakukan dengan mengikuti perkembangan bursa, membuat interpretasi, dan memahami apa yang dilakukan oleh rata-rata bursa setiap harinya. Dengan mempelajari beberapa hal seperti menginterpretasi indeks harian, pergerakan harga dan volume perdagangan serta langkah-langkah responsive saham-saham unggulan, diharapkan dapat mengurangi risiko dalam investasi.

Makro Ekonomi Indonesia

August 7, 2008

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif selama tahun 2007 tercermin dari beberapa indikator ekonomi seperti stabilitas makroekonomi yang terjaga, surplus transaksi berjalan, cadangan devisa yang tinggi mencapai US$ 60 milyar, sistem nilai tukar yang mengambang, kondisi fiskal yang sehat dan kondisi perbankan ( CAR diatas 15% ) yang relatif lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi tersebut juga didukung oleh iklim investasi dan kondisi keamanan yang baik.

Meskipun pertumbuhan ekonomi global diperkirakan akan melambat pada tahun 2008 menurut IMF ( International Monetary Fund) karena kekhawatiran akan terjadinya resesi dunia yang didahului oleh US akibat terjadinya krisis Subprime Mortgage dan juga meningkatnya harga minyak dunia yang telah menyentuh angka US$ 145/barel, namun kondisi perekonomian Indonesia yang cukup stabil akan mampu memberikan keuntungan bagi para investor domestik maupun asing dari portofolio investasi di pasar modal.

Prospek tahun 2008 bagi perekonomian Indonesia penulis nilai cukup kondusif, hal ini terbukti dengan dinaikannya peringkat jangka panjang mata uang asing dan lokal (IDR- Issuer Default Ratings) Indonesia menjadi “BB” dari sebelumnya “BB-“ oleh lembaga pemeringkat international Fitch Ratings dengan prospek stabil pada tanggal 14 Februari 2008. Dalam waktu yang sama, Fitch juga menaikkan country ceiling dari “BB” menjadi “BB+” dan mempertegas kembalinya peringkat jangka pendeknya pada “B”. Kenaikan peringkat tersebut mencerminkan kebijakan indonesia yang lebih agresif dalam melaksanakan agenda reformasi struktural dalam menghadapi iklim investasi yang lemah dimana usaha pemerintah memberantas korupsi, birokrasi dan peraturan yang menghambat perluasan investasi pada tahun 2007, ditambah dengan UU investasi dan juga sebuah paket kebijakan ekonomi, terutama bertujuan untuk menjawab kekhawatiran utama para investor.

Secara makro, ekonomi Indonesia cukup sehat dengan pertumbuhan GDP sebesar 6% di 2007. Kondisi politik stabil dan tidak terdapat gejolak sosial yang bersifat nasional. Boleh dikatakan, hampir semua faktor berada dalam posisi yang kondusif untuk melakukan investasi. Sehingga, krisis kali ini secara dominan disebabkan oleh pengaruh global yang dipicu oleh kondisi perekonomian US yang tengah menuju resesi.

Penulis tetap berharap indeks BEI akan terus meningkat seiring dengan prestasi emiten dan tumbuhnya ekonomi nasional. Namun demikian penulis juga mengingatkan bahwa pasar saham di tahun 2008 tidak bisa seindah tahun lalu akibat potensi krisis di tingkat global dan akan menghangatnya kondisi politik Indonesia pada kampanye pemilihan Presiden di paruh kedua 2008. Berikut ini perkembangan asumsi dasar makro ekonomi 2007- 2008.